DESAIN RISET BISNIS
Disain riset bisnis adalah kerangka atau
framework dalam bisnis untuk mengadakan
penelitian yang memuat prosedur yang
dibutuhkan dalam upaya memperoleh informasi dan
mengolahnya dalam rangka memecahkan masalah
dalam proses bisnis.
Tipe Tipe Riset
Exploratory Research
Descriptive Research
Causal Research
Exploratory Research
Untuk menjawab pertanyaan “WHAT”.
Digunakan apabila peneliti tidak mengetahui
banyak informasi mengenai masalah.
Informasi yang dibutuhkan sangat longgar,
fleksibel dan tidak terstruktur, sample tidak
perlu banyak dan analisis data lebih bersifat kualitatif.
Untuk mengembangkan hipotesa dan menentukan
variabel penelitian dan pengujian
lebih lanjut.
Hasil penelitian bersifat sementara dan
pada umumnya dilanjutkan dengan penelitian
yang bersifat konklusif.
Descriptive Research
Menjawab pertanyaan 6 W (Who, What, When,
Where, Why, Way).
Menjawab karakteristik objek penelitian.
Hipotesis lebih spesifik, memiliki desain
penelitian secara terstruktur.
Menggunakan data sekunder, data primer atau
observasi.
WHO, siapa yang akan diteliti? Setiap
pengunjung? Setiap pembeli?
WHAT, Informasi apa yang ingin diperoleh
dari responden? Frekuensi
pembeliannya?
WHEN, Kapan informasi tersebut diperlukan?
WHERE, dimana penelitian tersebut
dilakukan?
WHY, Mengapa informasi tersebut diperlukan?
HOW, Bagaimana informasi tersebut
diperoleh? Pengamatan? Wawancara?
Causal Research
Untuk mengetahui variabel yang menjadi
penyebab atau variabel pengaruh
(variabel independen) dan variabel yang menjadi akibat atau
variabel terpengaruh (variabel
dependen).
Untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan
antara varibel-variabel tersebut.
Aplikasi Exploratory Research
Tujuan Desain Riset Bisnis
Produk apa yang sebaiknya
dikembangkan?
Produk apa yang tampaknya
efektif untuk diiklankan?
Bagaimana pelayanan dapat
ditingkatkan?
Pertanyaan Desain Riset Bisnis
Alternatif apa yang
dibutuhkan dalam menyediakan
makan pagi bagi anak sekolah?
Benefit apa yang dibutuhkan
dalam produk?
Apa yang menyebabkan
ketidakpuasan pelanggan?
Hipotesis
Makanan kotak lebih baik dari
yang lainnya.
Tidak Diketahui.
Suspect that an image of
impersonalization is a problem
Aplikasi Descriptive Research
Tujuan Desain Riset Bisnis
Bagaimana sebaiknya produk
baru didisribusikan?
Bagaimana target pasar dapat
disegmentasikan?
Bagaimana sebaiknya produk
diganti?
Pertanyaan Desain Riset Bisnis
Dimana pelanggan membeli
produk baru yang sama?
Jenis pelanggan yang
bagaimana yang membeli produk
dan siapa yang membeli produk
kita?
Apa image kita sekarang?
Hipotesis
Pelanggan kelas atas membeli
di toko khusus dan
pelanggan menengah membeli di
toko biasa.
Orang yang lebih tua membeli
produk kita sedangkan
orang muda menjadi sasaran
kompetitor kita.
We are regarded as being
conservatives and behind the
times.
Aplikasi Causal Research Tujuan
Desain Riset Bisnis
Akankan penambahan karyawan
memberi profit?
Program advertising mana yang
ditayangkan?
Pertanyaan Desain Riset Bisnis
Bagaimana hubungan antara
pelayanan karyawan dan
pendapatannya?
Akankah orang akan pindah
dari mobil pribadi ke
angkutan umum?
Hipotesis
Untuk organisasi kecil penambahan
50% atau kurang
menghasilkan marginal revenue
in excess of marginal cost.
Program iklan A menghasilkan
lebih pengendara baru dari
program B.
Metode Pengumpulan Data
Data Sekunder, merupakan data
yang sudah tersedia, telah dikumpulkan untuk
berbagai tujuan dalam memecahkan
permasalahan. Terdiri dari : (1) sistem informasi
perusahaan yang ada, (2) bank data dari
organisasi baik pemerintah atau swasta dan (3)
sumber data lainnya yang tersindikasi.
Data Primer, merupakan data
yang khusus dikumpulkan untuk tujuan penelitian
yang dilakukan.
Kelemahan Data Sekunder
Sulit mendapatkannya.
Kurang relevan.
Tidak Akurat.
Data tidak lengkap.
Kelebihan Data Sekunder
Dapat menjelaskan ulang
permasalahan sebagai bagian dari proses riset
eksploratori.
Mungkin dapat memberikan
solusi untuk masalah tersebut.
Memberikan alternatif metode
riset data primer.
Mengingatkan peneliti
kesulitan yang dihadapi.
Memberikan informasi latar
belakang yang diperlukan dan membangun
kreatifitas bagi laporan riset.
Hubungan Antara Metode Pengumpulan
Data Dengan Katagori Riset
Data Collection Method
Eksploratory Descriptive Causal
Secondary Sources
Information System A B
Databanks A B
Syndicates services A B B
Primary sources
Qualitative research A B
Survey B A B
Experiments B A
A: Very Appropriate Method
B : Somewhat Appropriate Method
Kesalahan dalam Desain Riset Bisnis
Error dalam riset merupakan selisih antara
nilai yang diperoleh dari hasil
pengumpulan data dengan nilai sesungguhnya,
terdiri dari :
Sampling Error merupakan
kesalahan yang terjadi karena karena sampling
yaitu tidak semua objek diselidiki sehingga
ada selisih/ perbedaan dengan true value.
Non Sampling Error merupakan
kesalahan bukan karena sampling.
Systematic Error, kesalahan
yang terjadi karena nilai yang diperoleh lebih kecil
atau lebih besar dari sebenarnya.
Non Systematic Error,
kesalahan yang terjadi karena tidak disengaja.
TOTAL ERROR
Sampling Error
Non Sampling Error
Design Error
Selection Error
Population Specification
Error
Sampling frame Error
Surrogate Information Error
Measurement Error
Experinmental Error
Admistering Error
Questioning Error
Recording Error
Interference Error
Response Error
Data Error
Intentional
Unintentional
Non Response Error
Failure to contact all
members
Incomplete response
JENIS – JENIS ALAT PENGUMPULAN DATA
Jenis data yang akan dikumpulkan dan akan
digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan
tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan, dapat bersifat kualitatif, kuanrtitatif atau kombinasi keduanya.
Jenis alat
pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK)
harus diuraikan dengan jelas, seperti
melalui pengarnatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas,
penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar
dengan berbagai prosedur assesmen, dan sebagainya.
Contoh
cara pengumpulan data :
Data hasil belajar, diambil
dengan memberikan tes kepada siswa
Data tentang situasi
pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan, diambil dengan menggunakan lemabar observasi.
Data tentang repleksi diri
serta perubahan - perubahan yang terjadi di kelas,diambil dari jurnal yang dibuat guru.
Data tentang keterkaitan
antara perencanaan dengan pelaksanaan pembelajaran, didapatkan dari rencana pembelajaran dan
lembar observasi.
Adapun beberapa alat yang dapat dipakai
untuk membantu indra manusia dalam
penelitian,yaitu :
1. Observasi
2. Interview
3. Quasioner
4. Tes
5. Journal Siswa
6. Asesment
7. Pekerjaan Siswa
8. Audio taping or video taping
9. Catatan tingkah lakuksiswa (Anecdotal
records)
10. Attitude Scales (Likert Scales or
Semantic Differential)
11. Dokumentasi
Dalam kesempatan ini yang dibahas hanya
beberapa alat pengumpul data yang sering digunakan dalam PTK. Adapun alat
pengumpul data tersebut. Yaitu :
1. Pengamatan/Observasi
Pengamatan atau observasi adalah proses
pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti atau pengamat melihat situasi
penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan denganh
kondisi/interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok. Tipe – tipe
pengamatan yaitu, pengamatan berstruktur (dengan pedoman), pengamatan tidak
berstruktur (tidak menggunakan pedoman)
Untuk mencapai tujuan pengamatan,
diperlukan adanya pedoman pengamatan. Pengamatan sebagai alat pengumpul data ada
kecenderungan terpengaruh oleh pengamat/observe sehingga hasil pengamatan
tidak obyektif biasanya disebut dengan hallo efek (kesan yang dibentuk oleh pengamat).
Untuk menghindari pengaruh ini digunakan dua atau tiga pengamat yang memiliki latar
belakang keilmuan yang serupa.
Prosedur Observasi
a. Beberapa
Pendekatan
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya,
berhubung dengan sifatnya yang sangat
teknis maka paparan yang lebih rinci
mengenai prosedur observasi dalam PTK dibahas
secara tersendiri dalam bagian ini. Dalam
hubungan ini, sebagai pengtantar dibahas berbagai
sudut pandang yang dapat digunakan dalam
menetapkan pilihan prosedur observasi yang
akan digunakan dalam sesuatu siklus PTK.
Dilanjutkan dengan langkah – langkah observasi
serta teknik – teknik yang dapat dipilih.
Ada sejumlah kriteria yang dapat digunakan
dalam memilih teknik observasi yang
akan digunakan untuk sesuatu siklus
tindakan perbaikan dalam rangka PTK. Adapun kriteria
– kriteria yang dimaksud adalah (a) jenis
data yang diperlukan dalam rangka implementasi
sesuatu siklus tindakan perbaikan, (b)
indicator – indicator yang relevan yang
termanifestasikan dalam bentuk tingkah laku
guru dan siswa (c) Prosedur perekaman data
yang paling sesuai. Dan (d) pemanfaatan
data dalam analisis dan refleksi.
Lebih jauh pencermatan beberapa pendekatan
observasi berikut dapat berfungsi
lebih mengarahkan pilihan prosedur
observasi yang paling sesuai untuk keperluan yang
sedang dihadapi.
1) Interpretasi
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
Kadar interprestasi dalam observasi
dapat direntang mulai dari yang bersifat
sepenuhnya mekanistik tanpa interpretasi
Sehingga dinamakan low – inference observation seperi
dikembangkan oleh
Flanders (1970). Rekaman data hasil
observasi yang serupa ini akan berbentuk tanda cacah
(tallies)
untuk masing – masing kategori amatan, dalam hubungan ini yang
terdiri dari
(i)teacher talk, (ii) pupil talk,
dan (iii) silence/confusion.
Meskipun memang ada
kemanfaatannya, khususnya untuk memetakan
kecenderungan pendominasian diskursis
(discourses) dalam
interaksi pembelajaran, namun akan banyak juga sisi – sisi kajian lain
yang tidaka kan tersentuh dengan prosedur
observasi seruoa ini, misalnya yang berkenaan
dengan mutu keputusan dan/atau tindakan
profesionala guru dalam pengelolaan interaksi
pembelajaran. Sebaliknya, untuk keperluan
yang terakhir ini, diperlukan high-inference
observation,
yaitu suatu observasi yang mempersyaratkan penafsiran teknis secara langsung
dan cepat (instaneous
interpretation) dalam perekaman data hasil observasi.
Dengan kata lain fakta yang direkam
dalamobservasi itu lansung diinterpretasikan
dengan kerangka piker tertentu, misalnya
yang diartikulasikan sebagai asas – asas
pembelajaran siswa aktif (Learner-centered
instruction).Ini berarti bahwa apa yang
dikatakan, atau tidak dikatakan, apa yang
dilakukan atau tidak dilakukan oleh guru dan/atau
siswa diberi makna yang khas dan unuk dalam
mengobservasi sesuatu episode
pembelajaran.
2) Fokus
Dari segi titik tujuan observasi dapat
dibedakan dari prosedur yang tidak secara apriori
menetapkan titik tujuan kecuali kehendak
untuk memotret kesan umum tentang
implementasi pendekatan pembelajaran siswa
aktif sebagaimana telah dikemukakan dalam
butir sebelumnya. Di pihak lain sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai. Ada pula
observasi yang sebelum pelaksanaannnya
telah menetapkan titik –titik tujuan tertentu.
Misalnya mengenai dominasi guru dalam
diskursis pembelajaran atu kadar tuntutan
intelektual pertanyaan –pertanyaan yang
diajukan guru (Low cognitive Level vs high
cognitive Level).
Ini berarti bahwa, dengan penetapan focus yang dimaksud perhatian
pengamat terutama akan dibatasi pada titik
incar yang telah ditetapkan itu. Di pihak lain ini
tentu tidak dapat diartikan bahwa pengamat
akan secara kaku menutup mata dan telinga
dari kejadian – kejadian di luar focus,
yang justru dianggap memiliki makna dan/atau
implikasi penting berkaitan dengan tindakan
perbaikan yang tengah digelar.
Pada sisi lain, memang ada saatnya
diperlukan observasi yang bersifat terbuka (open
– ended).
Tindakan perbaikan yang memasang prakarsa
dan kreativitas siswa (atau guru)
sebagi salah satu tujuannya akamn
mempersyaratkan observasi yang lebih bersifat terbuka
itu. Sebaliknya, penstrukturan yang terlalu
dini dan atau kaku, akan gagal menjaring
indicator –indikator yang berkenaan dengan
prakarsa serta kreativitas siswa (atau guru)
yang dimaksud.
3) Pelaksana
Sebagaimana telah dikemukakakn, pada
dasarnya dalam konteks PTK guru yang
merupakan actor tindakan adalah juga
pengamat PTK. Meskipun kerja lama kesejawatan
akan dapat sangat membantu produktivitas
pengumpilan data dan, pada gilirannya,
effektivitas PTK sebagai suatu bentuk
perbaikan yang menjanjikan dampak positif yang
berkelanjutan.
Meskipun memang dapat juga merupakan
permasalahan yang dapat muncul dalam
konteks dimana ada rekan sejawat yang
menyediakan diri untuk berfungsi sebagai
pengamat. Namun permasalahan cakupan dan
obyektivitas merupakan titik –titik rawan
apabila observasi juga harus dilakukan oleh
guru sebagai actor PTK.
Salah satu format yang merupakan
modifikassi catatan lapangan. (field
notes) yang
dapat dimanfaatkan oleh guru yang merangkap
fungsi sebagai pelaku tindakan perbaikan
dan pengamat dengan hasil yang menjanjikan
adalah Jurnal Harian. Pada dasarnya, jurnal
harian yang produktif adalah yang
mengandung 4 komponen yaitu (i) identifikasi konteks
observasi. (ii) informasi factual yang
menonjol dalam sesuatu periode observasi. (iii) makna
dari informasi faktual tersebut dalam
konteks di mana ia teramati. dan (iv) implikasi dari
fakta dan makna yang dimaksud dalam butir
ii dan iii dalam kerangka piker tindakan
perbaikan yang tengah digetar.
Dengan dokumentasi rekaman yang sistematis
mulai dari konteks fakta, makna
beserta implikasinya dalam sesuatu kerangka
piker tertentu itu, maka proses refleksi akan
terfasilitasi secara efektif dan effisien
karena berhasil memanfaatkan data yang baiak
cakupan maupun obyektifitas serta
pemaknaannya cukup memadai.
4) Tujuan
Dalam penelitian formal, observasi
dilakukan untuk mengumpulkan data yang sahib
dan handal (valid dan reliable)yang dapat
digunakan sebagai bahan dalam menjawab
pertanyaan –pertanyaan penelitian, termasuk
yang dikemas dalam bentuk hipotesis –
hipotesis. Sebaliknya, dalam PTK obsevasi
dilakukan terutama untuk memantau proses dan
dampak pembelajaran yang diperlukan untuk
dapat menata langkah – langkah perbaikan
atas prakarsa sendiri ini sudah ditekankan
dalam konteks observasi kesejawatan (peer
observation, peer supervision) yang
telah dikemukakan sebelumnya. Akhirnya, yang jelas –
jelas dan tegas – tegas harus dihindari
dalam konteks PTK adalah observasi yang dalam
pelaksanaannya terpusatkan pada
pengungkapan kekurangan dan/atau kesalahan guru yang
berfungsi sebagai actor tindakan perbaikan.
Jelasnya observasi yang dalam praktek
pelaksanaannya hanya terfokus pada
kekurangan dan kesalahan guru itu akan berdampak
merugikan misi PTK. Sebab informasi balikan
yang dihasilkannya akan dihadapai dengan
sikap bermusuhan dan ketertutupan.
5) Alat bantu rekam
Dari segi alat bantu rekam yang digunakan
ragam prosedur observasi dapat
direntang dari yang nyaris tidak
menggunakan alat bantu rekam kecuali selembar kertas
kosong, sampai dengan yang menggunakan alat
rekam pandang dengar yaitu kamera video
yang dapat merekam peristiwa secara
relative original. Dalam banyak hal, penggunaan
berbagai alat bantu rekam yang canggih itu
memang sangat menggoda, dan untuk keperluan
– keperluan tertentu. Memang menjanjikan
kemanfaatan yang nyata dalam bentuk
kelengkapan rekaman.
Namun disamping berbagai keuntungan yang
dijanjikannya, penggunaan alat bantu
rekam dalam konteks PTK juga perlu
dipertimbangkan dari segi kelaikannya (feasibility).
Artinya, hasil rekaman yang sangat lengkap
dengan alat bantu rekam yang canggih itu, tidak
akan termanfaatkan secara maksimal apabila
untuk keperluan tayang ulang (replay)
diperlukan persiapan dan/atau perlengkapan
yang memakan waktu untuk menggelarnya.
Belum lagi apabila juga diperhitungkan
investasi yang diperlukan atau gangguan (intusion)
yang diakibatkan dalam penggunaannya.
6) Sasaran Observasi
Dalam PTK, observasi dipusatkan baik kepada
proses maupun hasil (interim)
tindakan pembelajaran beserta segala
peristiwa yang melingkupinya. Sebagaimana telah
dikemukakan, sama seperti pada tindakan
pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin.
Pada saat dilaksanakannya suatu
tindakan.secara bersamaan juga dilakukan pengamatan
tentang segala sesuatu yang terjadidan
tidak terjadi selama proses pembelajaran
berlangsung. Selanjutnya,sebagaimana halnya
dalam tindakan pembelajaran umumnya, data
yang diperoleh dari observasi itu langsung
diinterpretasikan maknanaya dalam kerangka
piker tindakan perbaikan yang telah direncanakan
sebagaimana telah dikemukakan di atas.
Pada gilirannya, data dan interpretasi
hasil observasi tersebut dijadikan sebagai masukan
dalam rangka pelaksanaan retleksi.
b. Pilihan
Prosedur Observasi
Dengan menggunakan kombinasi dari berbagai
sudut pandang di atas sebagai
rujukan, dapat dibedakan adanya 4 metode
observasi yaitu observasi terbuka, observasi
terfokus, observasi terstruktur dan
observasi sistematik. Namun segera perlu ditambahkan
bahwa derajat kebaikan dari metode – metode
observasi tersebut dalam konteks PTK,
terlebih – lebih apabila guru bertindak
sebagai actor tunggal pelaksana PTK, tentu saja
berbeda – beda. Oleh karena itu, para
pelaksana PTK perlu secara jeli dan tentu saja
berbeda – beda. Oleh karena itu, para
pelaksana PTK perlu secara jeli dan kreatif
memodifikasi metode – metode observasi yang
dimaksud sehingga sejauh mungkin
memenuhi harapan baiak dari segi mutu data
yang dapat dihasilkannya, maupun dari segi
kelaikan implementasinya.
1) Observasi Terbuka
Sebagaimana disarankan oleh
namanya,observasi terbuka dapat secara harfiah
dimulai dengan suatu halaman kosong,
sehingga pengamat harus berimprovisaas dalam
merekam “tonggak – tonggak penting” dalam
pengggelaran proses pembelajaran dalam
rangka implementasi tindakan
perbaikan.Tujuannya adalah agar pengamat dapat
merekonstruksi proses implementasi tindakan
perbaikan yang dimaksud dalam diskusi
balikan. Varian yang lain yang sebenarnya
telah mulai menampilkan struktur adalah dengan
penggunaan kategori – kategori besar (broad categories) sasaran
amatan yang secara
komprehensif mencakup berbagai tindakan
pembelajaran.
2) Observasi terfokus
Observasi terfokus adalah observasi yang
secara cukup spesifik diarahkan kepada
sesuatu aspek tindakan guru atau siswa
dalam proses pembelajaran. Salah satu contoh
kemungkinan fokusa amatan adalah dimensi –
dimensi dari strategi bertanya yang dalam sesuatu episode pembelajaran.
3) Observasi terstruktur
Observasi Terstruktur adalah ditandai
dengan perekaman data yang relative
sederhana, berhubung dengan telah
tersediakannya format yang relatif rinci. Sebagai contoh
dapat dikemukakan teknik bertanya yang
digelar oleh guru dalam sesuatu episode
pembelajaran, seperti (i) penyebaran
pertanyaan kepada sebanyak mungkin siswa, (ii) jenis
respons siswa karena ditunjuk atau
mengajukan diri di samping (iii) respon guru terhadap
jawaban siswa langsung ditangaani sendiri
aatau dilemparkan kepada siswa lain. Dengan
format rekaman yang relative rinci pengamat
tinggal membubuhkan tanda cacah (tallies)
atau tanda – tanda lain sehingga gejala yang diamati
terpetakan secara rapi
4) Observasi Sistematik
Dalam observasi sistematik pengkategorian
kemungkinana bentuk dan jenis amatan
distrukturkan secara lebih rinci lagi.
Salah satu contoh dari observasi sistematik yang telah
diketahui secara meluaas adalah format FIAC
(Flanders’ Interaction Analysys Categories)
yang memperkenalakan 3 kategori besar yaitu
(i) teacher talk (ii)
pupil talk, dan
(iii) silence
c. Langkah – langkah Observasi
Dalam hala pelaksanaan PTK dilakukan secara
kolaboratif, maka pelaksanaan
observasi perlu dilakukan dalam 3 fase
kegiatan yaitu (i) pertemuan perencanaan, (ii)
Pelaksanaan observasi kelas, dan (iii)
Pembahasan balikan. Berikut dijelaskan secara lebih
rinci hal – hal yang berkaitan dengan
observasi interpretasi dalam rangka penyelenggaraan
PTK secara kolaboratif tersebut.
1) Pertemuan Perencanaan
Dalam menyusun rencana observasi perlu
diadakan pertemuan bersama untuk menentukan urutan kegiatan observasi dan menyamakan
persepsi antara observer (pengamat) dan observee (yang diamati)
mengenai focus. Kriteria atau kerangka piker interpretasi di samping teknik observasi
termasuk perekaman hasil observasi yang akan digunakan.
- Bila kesamaan pandang telah
tercapai, maka di satu pihak keinginan masing –
masing dapat dipenuhi sedangkan di pihak
lain kekakuan dalam mengobservasi dapat di
kurangi kondisi kerja seperti ini dapat
menghemat waktu ayng di gunakan dalam
melaksanakan observasi di kelas dalam
mendiskusikan balikan dan dalam melakukan
refleksi serta dalam menyusun rencana
tindak lanjut, apabila diperlukan.
a). Penetapan focus Observasi
Fokus Observasi adalah segala sesuatu yang
menjadi sasaran tujuan dalam pelaksanaan observasi. Dalam rangka PTK,
focus observasi dibatasi pada sasaran – sasaran tertentu yang diprioritaskan dalam kerangka
piker tindakan perbaiakan yang tengah di gelar dalam sesuatu siklus PTK. Berhubung dengan
hakekatnya yang khas, maka ada 3 catatan yang perlu diingat dalam pelaksanaan
observasi dalam rangka PTK, yaitu (i) actor tindakan perbaikan adalah juga pelaku utama
pelaksanaan observasi, dengan resiko bahwa cakupan
wilayah observasinya kemungkinan akan lebih
terbatas, dibandingkan dengan apabila ada mitra yang dapat memberikan bantuan, (ii)
Sebagaimana telah ditekankan sebelumnya, kehadiran pengamat mitra berperan
melengkapi amatan dari pelaksana tindakan perbaikan, bukan menggantikannya,
dan (iii) Sebagai pengamat, mitra tetap
berfungsi sebagai pengamat, bukan sebagai supervisor penuh atau paling banyak sebagai
peer supervisor.
a) Kriteria Observasi
Kriteria yang digunakan dalam pelaksanaan
observasi adalah kerangka pikit yang digunakan dalam menafsirkan makna dari
berbagai fakta yang terekam sebagai indicator dari berbagai gejala yang diharapkan
terjadi sebagai perwujudan dari proses atau dampak dari tindakan perbaikan yang
diimplementasikan. Kerangka piker tersebut dapat lebih bersifat kuantitatif seperti misalnya dalam
bentuk frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa
dalam sesuatu kurun waktu tertentu.
Sebaliknya, kerangka piker tersebut dapat juga lebih
menampilkan sifat kualitataif seperti
berkenaan dengan sifat dan/atau tujuan pertanyaan
yang diajukan itu (pertanyaan factual atau
pertanyaan analitik, pertanyaan evaluatif dan
pertanyaan – pertanyaan yang menuntut
pengerahan proses kognitif tingkat tinggi lainnya.
Namun yang lebih sering dibutuhkan adalah
kombinasi di antara keduanya. Yang
tentu saja harus diramu secara kontekstual
sesuai dengan tujuan, materi dan prosedur yang
terdapat dalam scenario di satu pihak,
serta sesuai pula dengan mini perbaikan dari hipotesis
tindakan yang kebetulan di gelar pada saat
itu. Pada gilirannya, sebagaimana telah
diisyaratkan di awal bagian ini, kriteria
observasi menyediakan kerangka acuan yang dapat
digunakan untuk menunjau kembali berbagai
aktivitas yang telah digelar sebagai perangkat
tindakan perbaikan. Oleh karena itu,
pengembangan kriteria observasi sekaligus juga
merupakan pemetaan kerangka piker yang
membingkai tindakan perbaikan.
Beberapa contoh kriteria observasi dalam
rangka PTK dapat dikemukakan sebagai
berikut :
1. Peningkatan proses pembelajaran, seperti
:
(a)Peningkatan frekuensi dan/atau kualitas
pertanyaan siswa dalam interaksi belajar
– mengajar.
(b) Peningkatan kerja sama antar siswa
dalam pelaksanaan tugas – tugas
pembelajaran
(c)Peningkatan jumlah dan/atau ragam sumber
belajar yang dimanfaatkan oleh
siswa.
2 Peningkatan hasil belajar, seperti :
(a) Peningkatan perasaan puas para siswa
(b) Peningkatan perasaan ingin tabu para
siswa
(c) Peningkatan jumlah, jenis dan/mutu
produk belajar yang dihasilkan siswa
(d) Peningkatan prestasi akademik
konvensional
(e) Penurunan frekuensi terjadinya
miskonsepsi terhadap materi belajar
3 Peningkatan keterlibatan warga sekolah
dalam tindakan perbaikan, seperti :
(a) Keterlibatan sejawat guru – guru lain
dalam tindakan – tindakan perbaikan
yang serupa
(b) Dukungan pimpinan sekolah dan para
orang tua siswa
(c) Pemanfaatan hasil PTK oleh sejawat guru
lain
c) Alat bantu observasi
Berbagai alat bantu observasi dapat
digunakan untuk memfasilitasi perekaman data
sesuai dengan spesifikasi yang dikehendaki.
Berbagai alat bantu tersebut dapat direntang
mulai dari yang paling terbuka sampai
dengan yang paling terstruktur. Selain itu juga
terdapat alat bantu rekam elektronik yang
dapat mendokumentasikan peristiwa secara
relative lengkap sebagaimana telah
dikemukakan sebelumnya, alat bantu yang paling
terbuka adalah selembar kertas kosong.
Penstrukturan awal dilakukan dengan
menetapkan terlebuh dahulu focus observasi
berupa pokok – pokok titik incar.
Penstrukturan dapat lebih ditingkatkan dengan
penggunaan checklist termasuk yang
merekam data secara mekanistik tanpa interpretasi
secara format RAC (Flanders’ Inter-Action Categories)
Alat bantu rekam elektronik memang
menjanjikan kelengkapan dokumentasi,
meskipun masih mengandung keterbatasan –
keterbatasan juga. Kamera hanya mampu
merekam informasi audio, sedangkan kamera
video dapat merekam 2 dimensi informasi
yaitu audio dan visual, meskipun masih
tetap ada keterbatasan teknis seperti misalnya dari
segi sudut pandang kamera.
b) Ketarampilan Mengobservasi
Dari segi keterampulan mengobservasi, tidak
setiap orang yang berkeinginan, secara
begitu saja terampil melakukan observasi.
Ada 3 keterampilan utama yang diperlukan untuk
dapat melakukan observasi yang baik, yaitu
:
(1) Kemampuan “menunda” kesimpulan :
Ketegasan dalam penarikan kesimpulan dapat
diatasi dengan selalu “kembali”
kepada focus serta tata aturan observasi
yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengamat yang
efektif merekam baik fakta yang dilihatnya
dari kerangka piker tindakan perbaikan yang
digelar melalui PTK.
Pengamat apakah itu guru pelaku tindakan
perbaikan atau mitra pengamat harus
secara eksplisit memisahkan antara fakta
dengan interpretasi terhadap fakta yang dimaksud.
Dengan kata lain kedua-duanya memang harus
direkam, namun secara jelas diindikasikan
pemilahannya. Fakta yang direkam tanpa
penyorotan dari sesuatu bingkai piker, akan
kehilangan maknanya sebaliknya rekaman
hasil observasi yang hanya memuat interpretasi,
cenderung menampilkan gambaran yang
distortif (biased)
Alat bantu perekaman elektronok lebih
berpeluang menghasilkan gambaran yang
lebih obyektif, anamun agar benar – benar
bermanfaat sebagai masukan, interpretasi yang
dilabel secra jelas memang dibutuhkan. Oleh
karena itu, hasil rekaman elektronik harus
secepatnya ditranskripsikan dan dibubuhi
catatan – catatan interpretative sesuai dengan
keperluan sehingga terwujud sebagai catatan
lapangan (field-notes)
Alat bantu yang lebuh sederhana yang sangat
praktis namun juga cukup produktif.
Sehingga cocok digunakan oleh pengamat yang
juga sekaligus pelaku tindakan, adalah
jurnal harian. Sebagaimana telah
dikemukakan jurnal harian merupakan semacam catatan
harian sehinggga dapat berfungsi sebagai
rekaman pengmatan yang sangat efektif, apabila
distrukturkan sedemikian sehingga
mengandung (a) rekaman factual, (b) pemberian makna
terhadap informasi factual yang terekam itu,
dan (c) paparan mengenai implikasinya dilihat
dari kerangka piker PTK yang tengah
dilakukan.
(2) Keteampilan dalam hubungan antar
pribadi.
Khususnya apabila melibatkan mitra sebagai
pengamat. Maka diperlukan
pendekatan hubungan antar pribadi agar “campur
tangan “ pihak luar, tidak justru
menimbulkan komplikasi – komplikasi yang
tidak perlu. Yang penting ditekankan adalah
agar masing – masing pihak, baik yang
diamati maupun yang mengamati “bertemu” dalam
arena denagan maksud untuk saling membantu
dalam belajar.
(3) Kemampuan teknis
Untuk menungkatkan produktivitas,
diperlukan kemampuan teknis di pihak
pengamat untuk menjadwal. Memilih “sample
peristiwa” serta instrumentasi (protokol,
checklist dan format – format perekaman
data lain) yang paling tepat secara kontekstual
sesuai dengan sosok dalam perbaikan yang
bersangkutan yang akan digunakan untuk
mengumpulkan informasi melalui pengamatan.
(4) Pelaksanaan Observasi
Pada waktu observasi dilakukan, observer
mengamati proses belajaran dan
mengumpulkan data mengenai segala sesuatu
yang terjadi pada proses pembelajaran
tersebut, baiak yang terjadi pada guru
maupun situasi kelas.Perlu diingat bahwa observer
hanya mencatat yang dilihat dan didengar
bukan memberikan penilaian atau mengganggu.
Untuk menghilangkan ketegangan guru selama
diobservasi, pada akhir observasi dilakukan
diskusi yang bersifat positif selama 5 atau
10 menit. Observer sebaliknya juga memberikan
salinan catatan observasi kepada guru yang
diobservasi.
(5) Diskusi Balikan
Sebagaiman telah dikemukakan diskusi
balaikan harus dilaksanakan dalam situasi
yang tidak menakutkan melainkan saling
mendukung (mutually supportive) serta
didasarkan
pada informasi yang diperoleh selama
observasi.penentuan serta penetapan target dilakukan
berdasarkan pembahasan yang terjadi dalam
diskusi balikan. Target – target yang ditetapkan
itu hanya bersifat realistis dalam arti
balik untuk dicapi dalam kurun waktu yang telah
ditentukan. Pada gilirannya, rencana
tindakan untuk pengembanagan berikutnya juga
disusun dengan bertolak dari diskusi
balikan dimana segala sesuatu yang terjadi dan tidak
terjadi selama implementasi tindakan
perbaikan itu direfleksikan.
Secara visual ketiga fase observasi kelas
dapat digambarakan sebagai berikut :
Planing Meeting
Feedback Discussion Observation Calassropom
The three-phase observation cycle
(Hopkin,1993:81)
(6) Perencanaan Tindak Lnjut
Sebagaimana telah dikemukakan, dalam
diskusi balikan apabila diperlukan,
ditetapkan sasaran – sasaran baru
perbaikan. Pada gilirannya sasaran – sasaran baru
perbaikan tersebut merupakan titik tolak
untuk perancangan tindakan perbaikan untuk siklus
berikutnya atau apabila sesuatu tujuan
perbaikan telah dinilai tercapai secara cukup
memuaskan, terbuka peluang untuk
mengidentifikasi permasalahan – permasalahan baru
yang memerlukan pengatasan melalui PTK.
Dengan daur kegiatan PTK seperti ini, maka
akan terpiculah mekanisme perbaikan
yang berkelanjutan.
2. Wawancara
Salah satu cara untuk mengumpulkan data
ialah dengan jalan mengajukan
pertanyaan – pertanyaan kepada subyek
penelitian.Instrumen ini digunakan untuk
mendapatkan informasi mengenai fakta,
keyakinan, perasaan, niat, dsb. Ada beberapa jenis
pertanyaan lisan yaitu wawancara.
Wawancara adalah metode pengumpulan data
dengan mengajukan pertanyaan secara
lisan kepada subyek yang diteliti.
Wawancara memilki sifat yang luwes, pertanyaan yang
diberikan dapat disesuaikan dengan subyek,
sehingga segala sesuatu yang ingin diungkap
dapat digali dengan baik. Ada dua jenis
wawancara berstruktur dan tidak berstruktur. Dalam
wawancara berstruktur, pertanyaan dan
alternative jawaban yang diberikan kepada subyek
telah ditetapkan terlebih dahulu oleh
pewawancara.
Wawancara tidak berstruktur bersifat
informal. Pertanyaan tentang pandangan,
sikap, keyakinan subyek, atau keterangan
lainnya dapat diajukan secara bebas kepada
subyek.
3. Kuesioner
Kontak langsung dengan para subyek yang
diperlukan dalam wawancara memakan
waktu yang lama, tenaga, dan biayanya.
Banyak informasi yang dapat dikumpulkan dengan
perantaraan daftar pertanyaan tertulis yang
diberikan kepada subyek yang diteliti. Kuesioner
ada dua macam kuesioner berstruktur atau
bentuk tertutup dan kuesioner tidak berstruktur
atau terbuka. Kuesioner berstruktur berisi
pertanyan yang disertai dengan pilihan jawaban.
Kuesioner tak berstruktur pertanyaan tidak
disertai dengan jawaban.
4. Tes
Tes merupakan alat pengukur data yang
berharga dalam penelitian. Tes ialah
seperangkat rangsangan (stimuli) yang di
berikan kepada seseorang dengan maksud untuk
mendapatkan jawaban – jawaban yang
dijadikan penetapan skor angka. Adapun jenis tes
dalam penelitian adalah tes prestasi
belajar, dan tes kecerdasan.
5. Daftar inventori kepribadian
Ada beberapa jenis ukuran kepribadian,
masing – masing mencerminkan sudut
pandang yang berbeda – beda. Peneliti harus
mengetahui secara tepat lebih dulu apa yang
ingin diukurnya baru kemudaian memilih
instrument. Tiga jenis ukuran kepribadian yang
paling abanyak dipakai adalah daftar
inventori, skala penilaian, dan teknik proyektif.
a. Daftar inventori adalah daftar
pertanyaan yang menggambarkan pola – pola
tingkah laku dan mereka diminta untuk
menunjukkkan apakah tiapa – tiap pernyataan
merupakan ciri tingkah laku mereka dengan
jalan memberi tanda cek pada jawaban ya, tidak
atau tidak tahu. Skor diperoleh dengan
menjumlahkan jawaban yang sesuai dengan sifat
yang sedang diukur.
b. Skala Penilaian
Skala penilaian merupakan alat penilaian
yang memerlukan penilaian yang
bdilakukan oleh seseorang terhadap tingkah
laku atau penampilan orang lain. Penilaitinggal
memberikan nilai pada suatu
kontimum(rangkaian satuan) atau suatu kategori yang
menggambarkan cirri tingkah laku orang yang
dinilai. Jenis skala penilaian ada dua, yaitu
skala grafis dan skala kategori.
c. Teknis Proyeksi
Teknik Proyeksi adalah ukuran yang
dilakaukan dengan jalan meminta seseorang
memberikan respon kepada suatu stimulus
yang ambigu atau yang tak tersusun. Teknik ini
disebut proyeksi karena seseorang
diharapkan memroyeksikan kebutuhan, keinginan,
ketakutan, kecemasannya sendiri dalam
stimulus tersebut. Berdasarkan penafsiran dan
tanggapan subyek, peneliti mencoba menyusun
suatu gambaran menyeluruh tentang struktur
kepribadian seseorang. Contoh tes
Appersepsi Tematik (TAT). Tes Rorsharch yang
menggunakan noda tinta.
6. Skala
Skala adalah seperangkat nilai angka yang
ditetapkan kepada subyek, obyek, atau
tingakah laku denga tujuan mengukur sifat.
Skala ini biasa digunakan untuk mengukur
sikap, nilai – nilai, dan minat. Skala ini
digunakan untuk mengukur seberapa jauh seseorang
memiliki ciri yang ingin diteliti. Skala
ini memiliki (skala Thurstone), summated scale (skal
Guttmjan), dan semantic differential scale.
i. Skala Likert, skala jenis ini merupakan
sejumlah pernyataan positif dan
negative mengenai suatu obyek sikap. Dalam
memberikan respon terhadap pernyataan
dalam skala ini, subyek menunjukkan sangat
setuju, setuju, tidak mempunyai pilihan, tidak
setuju, atau sangat tidak setuju. Contoh
Pendidikan Luar Biasa hendaknya dipisahkan
dengan pendidikan untuk anak normal.
Sanagat setuju (2), setuju (1), tidak
mempunyai pilihan (0), tidak setuju (-1), dan
sangat tidak setuju(-2)
ii Skala Thurstone
Thurstone mengembangkan suatu metode untuk
menentukan nilai skala tertentu
pada hala – hal yang mewakili berbagai
tingkat sikap yang menyenagkan. Skala yang
dikembangkan oleh Thurstone ada 11 dari
menyenagkan, netral sampai tidak menyenagkan.
iii Skala Guttman
Teknik kumulatif timbul karena memberikan
kritikan pada skala sikap Thurrstone
dan skal likert mengatakan bahwa skala –
skala tersebut memuat pernyataan – pernyataan
heterogen mengenai berbagai dimensi obyek
sikap. Guttman mengembangkan suatu teknik
untuk mengatasi masalah ini dengan
menggolongkan skala berdimensi tunggal, bermaksud
menetapkan apakag sikap yang sedang
diselidiki benar – benar hanya menyangkut asatu
dimensi. Suatu sikap dianggap berdimensi
tunggal kalau sikap itu menghasilkan skala yang
kumulatif, yaitu skala yang butir –
butirnya berkaitan satu sama lain sedemikian rupa
sehingga seorang subyek yang setuju dengan
pernyataan nomor 2,akan merasa setuju
dengan nomor 1. Contoh reponden diminta
setuju atau tidak setuju.
1. Manfaat POMG sepadan dengan waktu yang
dihabiskan
untuk organisasi
2. POMG mempunyai pengaruh besar guna
meningkatkan
peranan sekolah
3 POMG adalah organisasi yang paling
penting di Indonesia
guna meningkatkan peranan sekolah.
Contoh Tabel Skala Guttman
________________________________________________________
Setuju dengan Tidak setuju Dengan
Pernyataan nomor Pernyataan nomor
Skor 3 2 1 3 2 1
3 X X X 0 0 0
2 0 X X X 0 0
1 0 0 X X X 0
0 0 0 0 X X X
Apabila ini adalah skala kumulatif, maka
seharusnya dapat disusun semua tanggapan
responden ke dalam pola seperti pada table
diatas. Dengan demikian jika skor seseorang
diketahui, maka seharusnya kita dapat
mengatakan dengan tepat pertanyaan – pertanyaan
mana yang di setujui oleh subyek itu.Misal,
semua responden mempunyai skor 2, yaitu
percaya bahwa manfaat POMG sepadan dengan
waktu yang dihabiskan untuk organisasai
dan POMG mempunyai pengaruh dengan waktu
yang dihabiskan untuk organisasai dan
POMG mempunyai pengaruh besar dalam
meningkatkan peranan sekolah, namun tidak
percaya POMG adalah organisasai yang paling
penting di Indonesia untuk meningkatkan
peranan sekolah.
Subyek dapat dirangking berdasarkan
tanggapan mereka terhadap skala itu. Oleh
karena itu peneliti harus membentuk
pernyataan – pernyataaan tertentu. Kemudian pola
tanggapan yang sebenarnya diteliti dan
diukur, sejauh mana tanggapan itu dapat
direproduksi dari skor keseluruhan. Salah
satu cara yang di lakukan adalah membagi jumlah
total kesalahan dengan jumlah total
tanggapan dan hasilnya dipakai untuk mengurangi
angka satu, sehingga diperoleh koefisien
reproduksibilitas. Guttman menyarankan nilai
0,90 sebagai membentuk skala berdimensi
tunggal (Komulatif).
iv. Semantic defferential scala (skala
perbedaan makna)
Pendekatan lain untuk mengukur sikap
terhadap obyek, subyek dan kejadian adalah
skala perbedaan makna. Skala ini
dikembangkan oleh Osgood, Suci, dan Tannenbaum.
Skala ini di dasarkan pada pandangan bahwa
obyek itu mempunyai dua macam makna bagi
seseorang, yaitu magna denotative dan
konotatif, yang dapat dinilai sendiri – sendiri. Magna
denotatif suatu subyek dapat dengan mudah
dinyatakan, namun tidak begitu dengan magna
konotatif. Suatu subyek secara tidak
lansung, yaitu dengan menggunakan sejumlah kata –
kata sifat yang mempunyai dua kutub
(bipolar) dan meminta beberapa orang untuk menilai
obyek itu dengan berpedoman pada kata –
kata sifat. Osgood menggunakan skala ini atas
tujuh titik dengan angka 0 sebagai titik
tengahnya ke atas sampai + 3 dan ke bawah – 3
untuk menilai sikap.
Baik +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Buruk
Bersih +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Kotor
Manis +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Pahit
Kuat +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Lemam
Besar +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Kecil
Berat +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Ringan
Aktif +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Pasif
Cepat +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Lambat
Panas +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 Dingin
Dengan mengetahui penilai para subyek
terhadap suatu obyek, peneliti dapat
menetapkan adalah sikap masing – masing
terhadap obyek tersebut positif atau negative.
Skor sikap seorang responden dapat
dibandingkan dengan sikap umum terhadap obyek itu
oleh suatu kelompok yang ditunjuk. Dapat
juga sampai skor sikap responden denga jalan
membandingkan sikap sejumlah orang terhadap
obyek tersebut, dan dengan
membandingkan pola penilaian mereka dengan
pola penilaian orang lain.
Osgood dkk membagi menjadi tiga kelompok
kata sifat yaitu,
Evaluatif; terdiri dari baik – buruk,
bersih – kotor
Potensi; terdiri kuat – lemah, besar –
kecil, dan
Aktivitas; terdiri aktif – pasif, cepat –
lambat.
0 komentar:
Posting Komentar